Analisis Komprehensif tentang Ukuran dan Bentuk Pembayaran Zakat Fitrah di Masyarakat
Oleh: Gus Moen
A. Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Di tengah masyarakat, khususnya menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, sering kali muncul perbedaan pendapat tentang ukuran zakat fitrah yang wajib dikeluarkan. Sebagian masyarakat mengeluarkan zakat fitrah sebesar 2,5 kg beras, sementara yang lain mengeluarkan 2,7 kg, bahkan ada yang 2,8 kg atau 3 kg. Perbedaan ini tidak jarang menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat awam.
Di sisi lain, fenomena kehidupan modern yang serba instan juga berdampak pada praktik pembayaran zakat fitrah. Masyarakat perkotaan cenderung menginginkan kemudahan dan praktis, sehingga banyak di berbagai daerah yang membayar zakat fitrah dengan uang, dengan nominal yang disetarakan dengan harga beras 2,5 kg atau 2,7 kg.
Fenomena ini melahirkan dua pertanyaan penting yang perlu dijawab secara komprehensif:
1. Sebenarnya berapa nominal zakat fitrah dengan beras yang wajib dikeluarkan?
2. Bolehkah membayar zakat fitrah dengan uang, dan berapakah nominalnya?
Tulisan ini akan menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan merujuk pada dalil-dalil yang shahih dan pendapat para ulama dari berbagai mazhab.
B. Ukuran Zakat Fitrah dengan Beras yang Wajib Dikeluarkan
1. Ketentuan Dasar: Satu Sha’
Ukuran yang wajib dikeluarkan dalam zakat fitrah adalah ukuran 1 Sha’ atau 4 Mud. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kalangan umat Islam.” (HR. Bukhari, no. 1503; Muslim, no. 984)
Dalam kitab Kifayah al-Akhyar, Syekh Taqiyuddin al-Hishni menjelaskan:
فَصْلٌ وَتَجِبُ زَكَاةُ الْفِطْرِ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: الْإِسْلَامُ، وَغُرُوبُ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ… ثُمَّ الْأَصْلُ فِي وُجُوبِهَا مَا رَوَاهُ الشَّيْخَانِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“(Fasal) Zakat fitrah wajib karena tiga hal: Islam, terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan… Kemudian dasar kewajibannya adalah apa yang diriwayatkan oleh dua syaikh (Bukhari dan Muslim) dari Ibnu Umar RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah atas manusia satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap orang merdeka atau hamba sahaya, laki-laki atau perempuan dari kalangan muslimin.” (Kifayah al-Akhyar, hlm. 186)
2. Konversi Sha’ ke Kilogram: Perbedaan Pendapat Ulama
Dalam mengkonversi ukuran sha’ ke dalam satuan kilogram, para ulama berbeda pendapat. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan dalam menentukan berat jenis masing-masing bahan makanan serta perbedaan dalam menetapkan ukuran mud itu sendiri.
Dalam kitab I’anah at-Thalibin, Syekh al-Bakri ad-Dimyathi menjelaskan:
(وَهِيَ) أَيْ زَكَاةُ الْفِطْرِ (صَاعٌ) وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَمْدَادٍ، وَالْمُدُّ رِطْلٌ وَثُلُثٌ – وَقَدَّرَهُ جَمَاعَةٌ بِحَفْنَةٍ بِكَفَّيْنِ مُعْتَدِلَيْنِ – عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ (مِنْ غَالِبِ قُوتِ بَلَدِهِ) أَيْ بَلَدِ الْمُؤَدَّى عَنْهُ
“Zakat fitrah adalah satu sha’, yaitu empat mud. Satu mud adalah satu rithl dan sepertiga – dan sebagian ulama memperkirakannya sebagai dua genggaman tangan yang sedang – dari setiap orang, dari makanan pokok yang umum di negerinya, yaitu negeri orang yang ditunaikan zakat untuknya.” (I’anah at-Thalibin, juz 2, hlm. 195)
Dalam kitab Kifayah al-Akhyar juga disebutkan:
وَالِاعْتِبَارُ فِي الصَّاعِ بِالْكَيْلِ وَإِنَّمَا قَدَّرَ الْعُلَمَاءُ الصَّاعَ بِالْوَزْنِ اسْتِظْهَارًا… وَعَلَى هَذَا فَالتَّقْدِيرُ بِخَمْسَةِ أَرْطَالٍ وَثُلُثٍ تَقْرِيبًا
“Yang menjadi patokan dalam sha’ adalah takaran (kayl), dan para ulama memperkirakan sha’ dengan timbangan (wazn) sebagai bentuk kehati-hatian… Atas dasar ini, perkiraan sha’ adalah lima rithl dan sepertiga secara perkiraan.” (Kifayah al-Akhyar, juz 1, hlm. 273)
Berikut adalah beberapa pendapat ulama tentang konversi sha’ ke kilogram:
| No | Sumber Kitab | Ukuran per Mud | Ukuran per Sha’ (4 Mud) |
| 1 | al-Fikhu al-Manhaji & at-Tahdzib | ± 6 ons | 2,4 kg |
| 2 | Mukhtashor Tasyiid al-Bunyan | ± 6,25 ons | 2,5 kg |
| 3 | at-Takrirot as-Sadidah & Ghoyah al-Muna | ± 6,875 ons | 2,75 kg |
| 4 | Fathu al-Qodir & al-Fiqhu al-Islami | ± 7 ons | 2,8 kg |
| 5 | at-Takrirot as-Sadidah (pendapat ikhtiyat) | ± 7,5 | 3 kg |
3. Rincian Pendapat dalam Kitab-Kitab Mu’tabar
a. Pendapat 2,4 kg
Dalam kitab al-Fiqhu al-Manhaji disebutkan:
وَالصَّاعُ الَّذِي كَانَ يَسْتَعْمِلُهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّمَا هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ أَرْبَعَةِ أَمْدَادٍ، أَيْ حَفَنَاتٍ، وَهَذِهِ الْحَفَنَاتُ الْأَرْبَعُ مُقَدَّرَةٌ بِثَلَاثَةِ أَلْتَارٍ كَيْلًا، وَتُسَاوِي بِالْوَزْنِ (٢٤٠٠) غَرَامًا تَقْرِيبًا
“Sha’ yang digunakan Rasulullah ﷺ adalah empat mud, yaitu empat genggaman. Empat genggaman ini diperkirakan dengan tiga liter dalam takaran, dan setara dengan timbangan kurang lebih 2400 gram.” (al-Fiqhu al-Manhaji, juz 1, hlm. 230)
Dalam kitab at-Tahdzib (syarah matan al-Ghayyah wa at-Taqrib) disebutkan:
وَقَدْرُهُ خَمْسَةُ أَرْطَالٍ وَثُلُثٌ بِالْعِرَاقِي وَتُسَاوِي بِالْوَزْنِ 2400 غَرَامٍ تَقْرِيبًا
“Ukurannya adalah lima rithl dan sepertiga dengan ukuran Irak, dan setara dengan timbangan kurang lebih 2400 gram.” (at-Tahdzib, hlm. 96)
b. Pendapat 2,5 kg
Dalam kitab Mukhtashor Tasyiid al-Bunyan disebutkan:
وَتَجِبُ زَكَاةُ الْفِطْرَةِ صَاعًا… وَالصَّاعُ أَرْبَعَةُ أَمْدَادٍ وَالْمُدُّ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أُوقِيَّةً… أَمَّا الْيَوْمَ فَالرِّطْلُ مُوَحَّدٌ وَهُوَ سِتَّةَ عَشَرَ أُوقِيَّةً فِي كَامِلِ الْمِنْطَقَةِ (إِثْنَانِ كِيلُو وَنِصْفٌ تَقْرِيبِيًّا)
“Wajib zakat fitrah satu sha’… Satu sha’ adalah empat mud, satu mud adalah delapan belas uqiyah… Adapun sekarang, rithl disatukan menjadi enam belas uqiyah di seluruh wilayah (kurang lebih dua setengah kilogram).” (Mukhtashor Tasyiid al-Bunyan, hlm. 205)
c. Pendapat 2,75 kg
Dalam kitab at-Taqrirot as-Sadidah disebutkan:
الْوَاجِبُ فِيهَا صَاعٌ عَنْ كُلِّ شَخْصٍ أَيْ أَرْبَعَةُ أَمْدَادٍ بِمُدِّ النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ مَا يُسَاوِي حَالِيًّا ٢،٧٥ كِلُو تَقْرِيبًا
“Yang wajib dalam zakat fitrah adalah satu sha’ dari setiap orang, yaitu empat mud dengan mud Nabi ﷺ, yang setara saat ini kurang lebih 2,75 kg.” (at-Taqrirot as-Sadidah, juz 1, hlm. 419)
Dalam kitab Ghoyah al-Muna disebutkan:
وَقَدْرُ زَكَاةِ الْفِطْرِ صَاعٌ… وَمِقْدَارُهُ وَزْنًا بِالْأَوْزَانِ الْحَالِيَّةِ ثَلَاثَةُ كِيلُو غَرَامٍ إِلَّا رُبْعًا مِنْ غَالِبِ قُوتِ الْمُؤَدَّى عَنْهُ
“Ukuran zakat fitrah adalah satu sha’… dan ukurannya dalam timbangan dengan ukuran saat ini adalah tiga kilogram kurang seperempat (2,75 kg) dari makanan pokok orang yang ditunaikan zakat untuknya.” (Ghoyah al-Muna, hlm. 549)
d. Pendapat 2,8 kg
Dalam kitab Fathu al-Qodir disebutkan:
سَاتُو نِصَابِ بَرَاسْ فُوتِيْه: 2719,19 غَرَامًا
“Satu nishab beras menurut ukuran adalah 2719,19 gram.” (Fathu al-Qodir, hlm. 80)
Dalam kitab al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuh, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan:
الصَّاعُ الشَّرْعِيُّ أَوِ الْبَغْدَادِيُّ: (4) أَمْدَادٍ أَوْ (5 وَ3/1) رِطْلٍ… وَوَزْنُهُ: (7،685) دِرْهَمًا أَوْ (75،2) لِتْرًا أَوْ (2176) غَمَّ… وَفِي تَقْدِيرٍ آخَرَ هُوَ الشَّائِعُ أَنَّ الصَّاعَ (2751 غَمًّا)
“Sha’ syar’i atau sha’ Baghdad adalah 4 mud atau 5 1/3 rithl… dan beratnya 7.685 dirham atau 2,75 liter atau 2.176 gram… Dan dalam perkiraan lain yang lebih umum, satu sha’ adalah 2.751 gram.” (al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuh, juz 1, hlm. 142)
e. Pendapat Ikhtiyat (Kehati-hatian) 3 kg
Dalam kitab at-Takrirot as-Sadidah juga disebutkan:
وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ ثَلَاثَةُ كِيلُوَاتٍ تَقْرِيبًا فَالْأَفْضَلُ الِاحْتِيَاطُ
“Sebagian ulama mengatakan kurang lebih tiga kilogram, maka yang lebih utama adalah berhati-hati (dengan mengambil ukuran yang lebih besar).” (at-Takrirot as-Sadidah, juz 1, hlm. 419)
4. Kebebasan Memilih dan Ketentuan bagi yang Tidak Mampu
Pertama, muzakki (orang yang membayar zakat) diperbolehkan memilih di antara takaran ukuran di atas. Semua pendapat tersebut memiliki dasar dan argumentasi masing-masing, sehingga tidak ada keharusan untuk mengikuti salah satunya secara mutlak.
Kedua, jika seseorang tidak mampu mengeluarkan satu sha’ (karena kemiskinan atau keterbatasan), maka ia tetap berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah sesuai kemampuannya. Hal ini berdasarkan kaidah:
الْمَيْسُورُ لَا يَسْقُطُ بِالْمَعْسُورِ
“Apa yang mudah (dilakukan) tidak gugur karena adanya kesulitan (untuk melakukan yang sempurna).”
Dalam kitab Busyra al-Karim disebutkan:
(وَإِنْ قَدَرَ عَلَى بَعْضِهِ) أَيِ الصَّاعِ (فَقَطْ .. أَخْرَجَهُ) أَيِ الْبَعْضَ وُجُوبًا؛ إِذِ الْمَيْسُورُ لَا يَسْقُطُ بِالْمَعْسُورِ، وَمُحَافَظَةً عَلَى الْوُجُوبِ مَا أَمْكَنَ
“Jika ia hanya mampu mengeluarkan sebagian dari satu sha’, maka wajib baginya mengeluarkan sebagian tersebut, karena apa yang mudah tidak gugur oleh adanya kesulitan, dan menjaga kewajiban semampunya.” (Busyra al-Karim, hlm. 517)
C. Hukum Membayar Zakat Fitrah dengan Uang
1. Perbedaan Pendapat Ulama
Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan membayar zakat fitrah dengan uang (qimah) sebagai pengganti bahan makanan pokok.
Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah disebutkan:
التَّحَوُّلُ عَنِ الْعَيْنِ إِلَى الْقِيمَةِ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ لَا يَجُوزُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، وَكَذَلِكَ فِي ظَاهِرِ الْمَذْهَبِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ. وَيَجُوزُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ
“Berpindah dari bahan makanan (ain) kepada nilai (uang) dalam zakat fitrah tidak diperbolehkan menurut mazhab Maliki, Syafi’i, dan juga menurut zhahir mazhab Hanbali. Dan diperbolehkan menurut mazhab Hanafi.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz 10, hlm. 285)
a. Pendapat Mayoritas Ulama (Maliki, Syafi’i, Hanbali)
Mayoritas ulama dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali tidak memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang. Mereka berpendapat bahwa zakat fitrah harus ditunaikan dalam bentuk bahan makanan pokok sebagaimana disebutkan dalam nash.
Imam Malik rahimahullah berkata:
لَا يُجْزِئُهُ أَنْ يَدْفَعَ فِي الْفِطْرَةِ ثَمَنًا
“Tidak mencukupi baginya membayar zakat fitrah dengan uang.” (at-Taj wa al-Iklil, juz 3, hlm. 150)
b. Pendapat Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang, bahkan menganggapnya lebih utama karena lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Dalam kitab Rad al-Muhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar disebutkan
وَجَازَ دَفْعُ الْقِيمَةِ فِي زَكَاةٍ وَعُشْرٍ وَخَرَاجٍ وَفِطْرَةٍ وَنَذْرٍ وَكَفَّارَةٍ غَيْرِ الْإِعْتَاقِ
“Boleh membayar nilai (uang) dalam zakat, ‘usyr, kharaj, zakat fitrah, nadzar, dan kafarat selain memerdekakan budak.” (Rad al-Muhtar, juz 2, hlm. 286)
Bahkan dalam kitab al-Mabsuth disebutkan bahwa membayar dengan uang lebih utama:
وَكَانَ الْفَقِيهُ أَبُو جَعْفَرٍ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – يَقُولُ: أَدَاءُ الْقِيمَةِ أَفْضَلُ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى مَنْفَعَةِ الْفَقِيرِ فَإِنَّهُ يَشْتَرِي بِهِ لِلْحَالِ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ
“Al-Faqih Abu Ja’far rahimahullah berkata: Membayar dengan nilai (uang) lebih utama karena lebih dekat kepada kemanfaatan bagi fakir miskin, sebab ia dapat membeli sesuatu yang dibutuhkannya saat itu juga.” (al-Mabsuth, juz 3, hlm. 107)
c. Pendapat Sebagian Ulama Malikiyah
Menariknya, sebagian ulama mazhab Maliki juga membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang, meskipun terdapat kemakruhan.
Dalam kitab at-Taj wa al-Iklil disebutkan:
وَرَوَى عِيسَى عَنِ ابْنِ الْقَاسِمِ: فَإِنْ فَعَلَ أَجْزَأَهُ
“Isa meriwayatkan dari Ibnul Qasim: Jika ia melakukannya (membayar dengan uang), maka itu mencukupinya.” (at-Taj wa al-Iklil, juz 3, hlm. 150)
Namun Syekh ad-Dardir berpendapat bahwa hal tersebut makruh. Dalam kitab Qurrah al-‘Ain disebutkan:
إِنْ أَخْرَجَ قِيمَةَ الصَّاعِ دَرَاهِمَ أَوْ ذَهَبًا فَإِنَّهُ يُجْزِئُ مَعَ الْكَرَاهَةِ، كَمَا قَالَ الدَّرْدِيرُ
“Jika ia mengeluarkan nilai satu sha’ berupa dirham atau emas, maka itu mencukupi disertai kemakruhan, sebagaimana dikatakan ad-Dardir.” (Qurrah al-‘Ain, hlm. 76)
d. Pendapat Ulama Kontemporer
Syekh Ali Jum’ah, mantan Mufti Mesir, dalam kitabnya al-Bayan al-Qawim menjelaskan:
يَجُوزُ إِخْرَاجُ زَكَاةِ الْفِطْرِ نُقُودًا، وَهُوَ مَذْهَبُ طَائِفَةٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ يُعْتَدُّ بِهِمْ… وَنَرَى أَنَّ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ نُقُودًا أَوْلَى لِلتَّيْسِيرِ عَلَى الْفَقِيرِ أَنْ يَشْتَرِيَ أَيَّ شَيْءٍ يُرِيدُ فِي يَوْمِ الْعِيدِ
“Boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan uang, dan ini adalah mazhab sekelompok ulama yang terpercaya… Kami berpendapat bahwa mengeluarkan zakat fitrah dengan uang lebih utama untuk memudahkan fakir miskin membeli apa pun yang ia inginkan di hari raya.” (al-Bayan al-Qawim, hlm. 124-126)
2. Rumusan PBNU tentang Zakat Fitrah dengan Uang
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam berbagai kesempatan telah merumuskan kebolehan membayar zakat fitrah dengan uang dengan mengacu pada pendapat sebagian ulama Malikiyah yang membolehkan hal tersebut, meskipun dengan catatan kemakruhan.

3. Ukuran Zakat Fitrah dengan Uang
Jika seseorang memilih untuk membayar zakat fitrah dengan uang, maka nominalnya disesuaikan dengan mazhab yang diikuti:
a. Jika Mengikuti (Taqlid) kepada Sebagian Ulama Malikiyah
Maka nominalnya disesuaikan dengan harga beras setempat sesuai dengan ukuran yang telah disebutkan pada jawaban pertama (boleh memilih di antara ukuran 2,4 kg, 2,5 kg, 2,75 kg, 2,8 kg, atau 3 kg). Namun perlu diperhatikan:
- Hukumnya makruh menurut sebagai ulama Malikiyah
- Penyalurannya hanya kepada fakir dan miskin, tidak boleh kepada selain keduanya (seperti amil, mu’allaf, dll)
Dalam kitab Fiqh al-‘Ibadat ‘ala al-Madzhab al-Maliki disebutkan:
تُصْرَفُ صَدَقَةُ الْفِطْرِ إِلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ. لَا الْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَلَا الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَا غَيْرِهِمْ، إِلَّا إِذَا كَانُوا فُقَرَاءَ أَوْ مَسَاكِينَ
“Zakat fitrah disalurkan kepada fakir dan miskin, tidak kepada amil, mu’allaf, dan lainnya, kecuali jika mereka termasuk fakir atau miskin.” (Fiqh al-‘Ibadat ‘ala al-Madzhab al-Maliki, hlm. 300)
b. Jika Mengikuti (Taqlid) kepada Mazhab Hanafi
Maka nominalnya mengacu pada ketentuan sebagai berikut:
1. Untuk jenis makanan yang disebut dalam nash:
- Gandum (Bur) = ½ Sha’ atau sekitar 1,9 kg
- Jelai (Sya’ir) = 1 Sha’ atau sekitar 3,8 kg
- Kurma (Tamr) = 1 Sha’ atau sekitar 3,8 kg
- Anggur kering (Zabib) = 1 Sha’ atau sekitar 3,8 kg
2. Untuk beras (yang tidak disebut dalam nash), maka mengikuti takaran dan harga gandum (Bur), yaitu ½ Sha’ atau sekitar 1,9 kg.
Dalam kitab al-‘Inayah Syarh al-Hidayah disebutkan:
وَأَمَّا مَا لَيْسَ بِمَنْصُوصٍ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُلْحَقُ بِالنُّصُوصِ بِاعْتِبَارِ الْقِيمَةِ… ثُمَّ يُعْتَبَرُ نِصْفُ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ وَزْنًا
“Adapun sesuatu yang tidak disebut dalam nash, maka ia dianalogikan dengan nash berdasarkan nilai (harganya)… kemudian diukur dengan setengah sha’ gandum berdasarkan timbangan.” (al-‘Inayah, juz 3, hlm. 245)
Dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan:
مَا سِوَى هَذِهِ الْأَشْيَاءِ الْأَرْبَعَةِ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهَا مِنَ الْحُبُوبِ كَالْعَدَسِ وَالْأَرُزِّ، أَوْ غَيْرِ الْحُبُوبِ كَاللَّبَنِ وَالْجُبْنِ وَاللَّحْمِ وَالْعُرُوضِ، فَتُعْتَبَرُ قِيمَتُهُ بِقِيمَةِ الْأَشْيَاءِ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهَا. فَإِذَا أَرَادَ الْمُتَصَدِّقُ أَنْ يُخْرِجَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَدَسِ مَثَلًا، فَيُقَوِّمُ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ، فَإِذَا كَانَتْ قِيمَةُ نِصْفِ الصَّاعِ ثَمَانِيَةَ قُرُوشٍ مَثَلًا، أَخْرَجَ مِنَ الْعَدَسِ مَا قِيمَتُهُ ثَمَانِيَةُ قُرُوشٍ
“Selain empat jenis yang disebut dalam nash, baik dari biji-bijian seperti kacang dan beras, maupun selain biji-bijian seperti susu, keju, daging, dan barang dagangan, maka nilainya diukur dengan nilai dari jenis yang disebut dalam nash. Jika seseorang ingin mengeluarkan zakat fitrah dengan kacang misalnya, maka ia menghitung nilai setengah sha’ gandum. Jika nilai setengah sha’ itu misalnya delapan qirsy, maka ia mengeluarkan kacang senilai delapan qirsy.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz 23, hlm. 343)
Contoh Praktis:
Jika harga gandum kasar di Indonesia pada tahun 2022 adalah Rp 23.000 per kg, maka untuk zakat fitrah dengan uang mengikuti mazhab Hanafi adalah:
1,9 kg × Rp 23.000 = Rp 43.700
Untuk tahun berikutnya, nominalnya disesuaikan dengan harga gandum pada tahun tersebut.
4. Rekomendasi: Ikhtiyat (Kehati-hatian)
Untuk pendapat sebagian ulama Malikiyah yang memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, masih terdapat perselisihan di kalangan mereka sendiri. Oleh karena itu, untuk bersikap hati-hati (ikhtiyat), sebagian musyawirin cenderung mengikuti pendapat mazhab Hanafiyah yang lebih jelas dan akurat berdasarkan referensinya.
Dalam kitab Fatawa ar-Ramli disebutkan tentang kebolehan taklid kepada Imam Abu Hanifah:
يَجُوزُ فِيهَا لِلْمَرْءِ الْمَذْكُورِ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ
“Boleh bagi seseorang untuk bertaklid (mengikuti) Imam Abu Hanifah dalam masalah ini.” (Fatawa ar-Ramli, juz 2, hlm. 55)
D. Kesimpulan dan Rekomendasi
1. Kesimpulan
Pertama, ukuran zakat fitrah dengan beras yang wajib dikeluarkan adalah satu sha’ atau empat mud. Dalam konversi ke kilogram, terdapat beberapa pendapat ulama:
- 2,4 kg (al-Fikhu al-Manhaji, at-Tahdzib)
- 2,5 kg (Mukhtashor Tasyiid al-Bunyan)
- 2,75 kg (at-Takrirot as-Sadidah, Ghoyah al-Muna)
- 2,8 kg (Fathu al-Qodir, al-Fiqhu al-Islami)
- 3 kg (pendapat ikhtiyat/kehati-hatian)
Muzakki boleh memilih di antara pendapat-pendapat tersebut. Jika tidak mampu mengeluarkan satu sha’, maka wajib mengeluarkan sesuai kemampuannya.
Kedua, membayar zakat fitrah dengan uang diperbolehkan dengan perincian:
| Mazhab yang Diikuti | Hukum | Ukuran | Catatan |
| Sebagian Ulama Malikiyah | Makruh, tetapi mencukupi | Harga beras 2,4 – 3 kg (pilih salah satu) | Hanya untuk fakir & miskin |
| Mazhab Hanafi | Boleh, bahkan lebih utama | Harga ½ sha’ gandum (± 1,9 kg) | Ukuran tetap, harga mengikuti pasar |
2. Rekomendasi Praktis
1. Bagi yang ingin membayar dengan beras: Pilihlah ukuran yang diyakini, misalnya 2,5 kg atau 2,7 kg, dan serahkan kepada mustahik yang berhak.
2. Bagi yang ingin membayar dengan uang:
- Jika mengikuti pendapat Malikiyah, bayarkan uang senilai harga beras antara 2,5 – 2,7 kg (atau ukuran lain yang dipilih) dan salurkan kepada fakir miskin saja.
- Jika mengikuti pendapat Hanafiyah, bayarkan uang senilai harga 1,9 kg gandum (bukan beras) dan dapat disalurkan kepada semua mustahik.
3. Sikap hati-hati (ikhtiyat): Disarankan mengikuti pendapat Hanafiyah karena lebih jelas ukurannya dan tidak diperselisihkan di kalangan mereka, serta lebih memudahkan fakir miskin.
3. Penutup
Demikianlah tuntunan praktis tentang ukuran dan bentuk pembayaran zakat fitrah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan membantu masyarakat dalam menunaikan ibadah zakat fitrah dengan benar dan tepat sasaran.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Wallahu a’lam bish-shawab. Allah SWT lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
E. Daftar Pustaka
1. Al-Qur’an al-Karim.
2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Thuq al-Najat, 1422 H.
3. Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya al-Turats, 1374 H.
4. Al-Hishni, Taqiyuddin. Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar. Damaskus: Dar al-Basha’ir, 2001.
5. Al-Bakri ad-Dimyathi, Utsman bin Muhammad. I’anah ath-Thalibin ‘ala Hill Alfazh Fath al-Mu’in. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
6. Az-Zuhaili, Wahbah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Damaskus: Dar al-Fikr, 1985.
7. Al-Ghazzi, Muhammad bin Qasim. Fath al-Qarib al-Mujib. Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004.
8. Al-Malibari, Zainuddin. Fath al-Mu’in. Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004.
9. Al-Kasani, Abu Bakr bin Mas’ud. Bada’i’ ash-Shana’i’ fi Tartib asy-Syara’i’. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1986.
10. As-Sarakhsi, Muhammad bin Ahmad. al-Mabsuth. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1993.
11. Ibnu ‘Abidin, Muhammad Amin. Rad al-Muhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Beirut: Dar al-Fikr, 1992.
12. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah. Kuwait: Wizarat al-Awqaf, 1983.
13. Al-‘Umrani, Yahya bin Abi al-Khair. al-Bayan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi’i. Jeddah: Dar al-Minhaj, 2000.
14. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
15. Ar-Ramli, Syihabuddin. Fatawa ar-Ramli. Mesir: al-Mathba’ah al-Khairiyyah, 1304 H.
16. Ali Jum’ah, Muhammad. al-Bayan al-Qawim li Tashhih Ba’dh al-Mafahim. Kairo: Dar as-Salam, 2010.
17. ‘Ubaid, Kaukab. Fiqh al-‘Ibadat ‘ala al-Madzhab al-Maliki. Damaskus: Dar al-Qalam, 2008.
18. Al-Haitami, Ibnu Hajar. Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj. Mesir: al-Maktabah at-Tijariyyah, 1983.
Tentang Penulis
Gus Moen adalah pemerhati kajian fikih kontemporer dan aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Tulisan ini disusun untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat tentang ukuran dan bentuk pembayaran zakat fitrah sesuai syariat Islam.

