Panduan Menghidupkan Malam Idul Fitri: Keutamaan, Tata Cara, dan Amalan-Amalan Sunnah

Malam 1 Syawal
Malam 1 Syawal

A. Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Malam Idul Fitri, yaitu malam tanggal 1 Syawal, merupakan momen yang sangat istimewa bagi umat Islam. Setelah sebulan penuh berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan, tibalah malam kemenangan yang dinanti-nantikan. Malam ini adalah malam yang penuh berkah, di mana Allah SWT membuka pintu ampunan dan melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba yang beriman.

Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang melewatkan malam mulia ini begitu saja. Ada yang sibuk dengan persiapan hari raya, ada pula yang tidak mengetahui amalan apa yang sebaiknya dilakukan. Padahal, para ulama sangat menganjurkan untuk menghidupkan malam Id dengan berbagai bentuk ibadah. Rasulullah ﷺ dan para salafush shalih telah memberikan teladan tentang bagaimana mengisi malam kemenangan ini dengan amal-amal yang mendekatkan diri kepada Allah.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, tulisan ini akan menjawab beberapa pertanyaan pokok:

a. Apa keutamaan menghidupkan malam Idul Fitri?
b. Bagaimana tata cara menghidupkan malam Idul Fitri menurut para ulama?
c. Apa saja amalan-amalan yang dianjurkan pada malam dan pagi hari raya Idul Fitri?

  1. Tujuan Penulisan

Melalui tulisan ini, penulis berharap dapat:

a. Menjelaskan keutamaan menghidupkan malam Idul Fitri berdasarkan dalil-dalil yang shahih dan hasan
b. Memaparkan tata cara dan pendapat ulama tentang batasan “menghidupkan malam”
c. Memberikan panduan lengkap amalan dari malam hingga pagi hari raya Idul Fitri

B. Keutamaan Menghidupkan Malam Idul Fitri

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam As-Syafi’i dan Ibnu Majah:

مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدَيْنِ لِلهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

“Siapa saja yang qiyamul lail pada dua malam Id (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah demi mengharap ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati.” (HR. As-Syafi’i dalam al-Umm, juz 1, hlm. 264; dan Ibnu Majah, no. 1782)

Hadits ini dari sisi sanad termasuk hadits dhaif (lemah) menurut para ahli hadits. Namun, para ulama membolehkan mengamalkannya dalam konteks fadhail al-a’mal (keutamaan amal) dengan syarat tidak meyakini keshahihannya secara mutlak, selama tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat. Imam An-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar menyebutkan bahwa para ulama membolehkan beramal dengan hadits dhaif dalam hal keutamaan amal, targhib (motivasi), dan tarhib (ancaman).

Para ulama memberikan penjelasan tentang makna “tidak matinya hati” dalam hadits di atas. Syekh Ahmad As-Shawi dalam kitabnya Bulghatus Salik menjelaskan:

وَمَعْنَى عَدَمِ مَوْتِ قَلْبِهِ عَدَمُ تَحَيُّرِهِ عِنْدَ النَّزَعِ وَعِنْدَ سُؤَالِ الْمَلَكَيْنِ وَفِي الْقِيَامَةِ. بَلْ يَكُونُ مُطْمَئِنًّا ثَابِتًا فِي تِلْكَ الْمَوَاضِعِ

“Makna ‘tidak mati hati orang yang menghidupkan malam hari raya’ adalah tidak bingung hatinya ketika naza’ (sakaratul maut), ketika ditanya oleh dua malaikat (di alam barzakh), dan di hari kiamat. Bahkan hatinya tenang penuh keteguhan pada momen-momen tersebut.” (Bulghatus Salik, juz 1, hlm. 278)

Ini menunjukkan bahwa menghidupkan malam Id bukan sekadar ritual kosong, tetapi memiliki dampak spiritual yang mendalam hingga akhirat kelak.

Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitabnya al-Umm menyebutkan bahwa doa mustajab pada lima malam utama:

خَمْسُ لَيَالٍ لَا يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ: لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةُ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

“Lima malam yang doa tidak akan ditolak padanya: malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab, dan malam Nisfu Sya’ban.” (al-Umm, juz 1, hlm. 264)

Pernyataan Imam Syafi’i ini menunjukkan betapa istimewanya malam Idul Fitri sebagai salah satu malam mustajab untuk berdoa. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika malam mulia ini dilewatkan begitu saja tanpa diisi dengan doa dan munajat kepada Allah SWT.

C. Tata Cara Menghidupkan Malam Idul Fitri

Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran minimal seseorang disebut “menghidupkan malam Id” (qiyam lailatil ‘id). Perbedaan ini memberikan kelapangan bagi umat Islam untuk memilih sesuai kemampuan masing-masing.

NoPendapatPenjelasanSumber
1Pendapat Pertama (ash-shahih)Menggunakan mayoritas waktu malam untuk beribadahImam An-Nawawi dalam al-Majmu’
2Pendapat KeduaCukup beribadah sesaat saja dari malam hari raya Imam As-Syafi’i(melihat praktik masyayikh Madinah)
3Pendapat KetigaCukup dengan shalat Isya berjamaah dan shalat Subuh berjamaahAl-Qadhi Husain dari riwayat Ibnu Abbas RA

Imam An-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab menyebutkan:

قَالَ أَصْحَابُنَا: يُسْتَحَبُّ إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدَيْنِ بِالصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ. وَفِي مِقْدَارِ الْإِحْيَاءِ أَقْوَالٌ: أَصَحُّهَا أَنَّهُ يَحْصُلُ بِإِحْيَاءِ أَكْثَرِ اللَّيْلِ، وَالثَّانِي: يَحْصُلُ بِصَلَاةِ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ جَمَاعَةً، وَالثَّالِثُ: يَحْصُلُ بِصَلَاةِ الصُّبْحِ جَمَاعَةً

“Para ulama mazhab kami (Syafi’iyah) berkata: Disunnahkan menghidupkan dua malam Id (Fitri dan Adha) dengan shalat, zikir, dan doa. Mengenai kadar minimal ‘menghidupkan’ terdapat beberapa pendapat: (1) Pendapat yang paling shahih, dapat tercapai dengan menghidupkan mayoritas malam; (2) Dapat tercapai dengan shalat Isya dan Subuh berjamaah; (3) Dapat tercapai dengan shalat Subuh berjamaah.” (al-Majmu’, juz 5, hlm. 42)

Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin dalam kitab Busyral Karim menjelaskan tentang pendapat yang memudahkan ini:

وَالْمَقْصُودُ بِالْإِحْيَاءِ الْمُبَالَغَةُ فِي الْعِبَادَةِ لَيْلًا، وَيُجْزِئُ فِي النَّفْلِ الْمُطْلَقِ أَقَلُّ الْإِحْيَاءِ عُرْفًا، وَقِيلَ: يَكْفِي صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ جَمَاعَةً بِنِيَّةِ إِحْيَائِهَا

“Yang dimaksud dengan ‘menghidupkan’ adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam hari. Dalam ibadah sunnah mutlak, mencukupi dengan minimal yang disebut menghidupkan secara ‘urf. Dan dikatakan: Cukup dengan shalat Isya dan Subuh berjamaah dengan niat menghidupkan malam tersebut.” (Busyral Karim, juz 2, hlm. 98)

Pendapat yang memudahkan ini memberikan harapan besar bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau tenaga. Yang terpenting adalah niat yang ikhlas dan usaha untuk mengisi malam Id dengan ibadah semampu kita.

D. Amalan-Amalan yang Dianjurkan
  1. Takbiran (Mengumandangkan Takbir)

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa Ramadhan) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjadi dasar disyariatkannya takbir pada malam dan hari raya Idul Fitri. Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “mengagungkan Allah” adalah dengan bertakbir sebagai bentuk syukur atas selesainya menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Takbir Idul Fitri dimulai sejak terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan (maghrib tanggal 29 atau 30 Ramadhan) hingga dimulainya shalat Id pada pagi hari.

Dalam kitab al-Majmu’, Imam An-Nawawi menyebutkan:

وَقْتُ التَّكْبِيرِ الْمُرْسَلِ لَيْلَةَ الْفِطْرِ وَيَوْمَهُ حَتَّى تَحْضُرَ الْإِمَامُ لِلصَّلَاةِ

“Waktu takbir mursal (yang tidak terikat dengan shalat) adalah malam Idul Fitri dan siangnya hingga imam hadir untuk shalat (Id).” (al-Majmu’, juz 5, hlm. 43)

Takbir disunnahkan di mana pun berada: di masjid, di rumah, di jalan, bahkan saat ini juga di media sosial sebagai sarana syiar Islam.

Lafal takbir yang masyhur dan banyak diamalkan umat Islam adalah:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

“Allah Maha Besar (3x), tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar (2x), dan segala puji bagi Allah.”

Terdapat juga versi yang lebih panjang:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

“Allah Maha Besar dengan kebesaran yang sempurna, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang. Tiada Tuhan selain Allah, kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan agama untuk-Nya meskipun orang-orang kafir membenci. Tiada Tuhan selain Allah semata, Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan mengalahkan golongan musuh sendirian. Tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.”

  1. Memperbanyak Zikir, Doa, dan Shalawat

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyatakan:

يُسْتَحَبُّ إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدَيْنِ بِالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَفْعَالِ الطَّاعَاتِ

“Disunnahkan menghidupkan dua malam hari raya dengan zikir, shalawat kepada Nabi ?, dan lainnya dari perbuatan-perbuatan ketaatan.” (al-Adzkar, hlm. 128)

Beberapa zikir yang dianjurkan:

  • Istighfar (memohon ampunan)
  • Tahmid (mengucapkan Alhamdulillah)
  • Tahlil (mengucapkan La ilaha illallah)
  • Tasbih (mengucapkan Subhanallah)
  • Shalawat kepada Nabi Muhammad
  1. Shalat Sunnah dan Qiyamul Lail

Dianjurkan untuk melakukan shalat-shalat sunnah, seperti shalat tahajud, hajat, dan qiyamul lail sebagaimana kebiasaan di bulan Ramadhan. Jika tidak mampu melakukan banyak shalat, setidaknya mengerjakan shalat Isya dan Subuh berjamaah.

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79)

  1. Menunaikan Zakat Fitrah

Zakat fitrah lebih utama ditunaikan sebelum shalat Id. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kalangan muslimin, dan beliau memerintahkan zakat itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar shalat Id.” (HR. Bukhari, no. 1503; Muslim, no. 984)

Membayar zakat fitrah di malam hari sebelum shalat Id termasuk menghidupkan malam dengan kebaikan dan membantu fakir miskin merayakan hari raya dengan bahagia.

  1. Memperbanyak Sedekah

Amal kebaikan di bulan Ramadhan dilipatgandakan pahalanya, termasuk sedekah yang dilakukan pada malam terakhir Ramadhan. Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri menjelaskan:

وَبِالْجُمْلَةِ فَيُكْثِرُ فِيهِ مِنْ أَعْمَالِ الْخَيْرِ لِأَنَّ الْعَمَلَ يُضَاعَفُ فِيهِ عَلَى الْعَمَلِ فِي غَيْرِهِ مِنْ بَقِيَّةِ الشُّهُورِ

“Dan kesimpulannya, maka (hendaknya) seseorang memperbanyak amal kebaikan di bulan Ramadhan karena (pahala) amal kebaikan akan dilipatgandakan dibandingkan ganjaran amal kebaikan yang dilakukan di luar bulan Ramadhan.” (Hasyiyah al-Bajuri, juz 1, hlm. 304)

Sedekah tidak harus dalam jumlah besar, yang penting konsisten dan ikhlas.

E. Amalan di Pagi Hari Raya (Penyempurna)

a. Mandi Sunnah Idul Fitri

Dianjurkan mandi, memotong kuku, dan membersihkan diri sebelum berangkat shalat Id, baik laki-laki maupun perempuan. Ini berdasarkan praktik para sahabat dan tabi’in. Ibnu Qudamah dalam al-Mughni menyebutkan bahwa mandi Id adalah sunnah yang dianjurkan.

Dari Nafi’, bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:

كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

“Bahwasanya Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat pagi menuju tempat shalat (mushalla).” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’, no. 426)

b. Makan Sebelum Berangkat Shalat

Berbeda dengan Idul Adha, pada Idul Fitri disunnahkan makan terlebih dahulu. Anas bin Malik RA meriwayatkan:

عَنْ آنَسٍ ابْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ، وَيَأْكُلَهُنَّ وِتْرًا

“Dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi ﷺ tidak berangkat pada Hari Raya Idul Fitri hingga beliau makan beberapa kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.” (HR. Bukhari, no. 953)

Hikmahnya adalah untuk menegaskan bahwa puasa Ramadhan telah usai, dan kita boleh makan di pagi hari.

c. Memakai Pakaian Terbaik (Putih)

Rasulullah ﷺ menganjurkan memakai pakaian putih karena merupakan pakaian terbaik. Dalam hadits riwayat Tirmidzi:

اِلْبَسُوْا مِنْ ثِيَابِكُمْ اَلْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوْا فِيْهَا مَوْتَاكُمْ

“Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih. Karena sesungguhnya pakaian putih termasuk pakaian terbaik kalian, dan kafanilah orang mati kalian dengannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2810)

Untuk Idul Fitri, dianjurkan memakai pakaian terbaik yang kita miliki, tidak harus baru, tetapi bersih dan rapi.

d. Menggunakan Wewangian

Bagi laki-laki, dianjurkan memakai wewangian sebelum berangkat shalat Id. Ini termasuk perhiasan dan penghormatan untuk hari raya.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، وَأَنْ يَسْتَنَّ، وَيَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ رواه مسلم

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Mandi pada hari Jum’at adalah kewajiban bagi setiap orang yang sudah baligh, serta hendaknya ia bersiwak (membersihkan gigi), dan memakai minyak wangi jika ia memilikinya.” (HR. Imam Muslim)

e. Mengambil Jalan Berbeda Saat Pergi dan Pulang

Dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

“Nabi SAW apabila pada hari raya, beliau mengambil jalan yang berbeda (antara pergi dan pulang).” (HR. Bukhari, no. 986)

Hikmahnya adalah untuk memperbanyak tempat yang menjadi saksi ibadah, menampakkan syiar Islam, dan menyapa lebih banyak orang.

f. Silaturahmi dan Bermaaf-maafan

Hari raya adalah momen yang tepat untuk menjalin silaturahmi dan saling memaafkan. Dari sahabat Jubair bin Nufair (seorang tabi‘in) yang berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

“Para sahabat Rasulullah ﷺ apabila saling bertemu pada hari ‘Id, mereka saling mengucapkan: ‘Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kalian.’”

Ucapan ini mengandung doa agar amal ibadah selama Ramadhan diterima dan kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya dalam keadaan sehat wal afiat.

F. Penutup

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal penting:

Pertama, menghidupkan malam Idul Fitri memiliki keutamaan besar, yaitu keteguhan hati di saat-saat kritis (sakaratul maut, alam barzakh, dan hari kiamat). Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Syafi’i dan Ibnu Majah.

Kedua, batasan “menghidupkan malam” memiliki tiga tingkatan yang memberikan kelapangan:

  • Tingkat tertinggi: menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah
  • Tingkat menengah: beribadah sesaat saja di malam hari
  • Tingkat minimal: shalat Isya dan Subuh berjamaah

Ketiga, amalan utama yang dianjurkan pada malam Idul Fitri meliputi:

  • Takbiran (mengumandangkan takbir)
  • Zikir, doa, dan shalawat
  • Shalat sunnah dan qiyamul lail
  • Menunaikan zakat fitrah sebelum shalat Id
  • Memperbanyak sedekah

Keempat, amalan penyempurna di pagi hari raya:

  • Mandi, memotong kuku, dan membersihkan diri
  • Makan sebelum berangkat shalat (dengan kurma)
  • Memakai pakaian terbaik (putih) dan wewangian
  • Mengambil jalan berbeda saat pergi dan pulang
  • Silaturahmi dan bermaaf-maafan dengan sesama

Malam Idul Fitri adalah malam kemenangan setelah sebulan berjuang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Jangan biarkan malam mulia ini berlalu begitu saja. Isilah dengan ibadah sebagai bentuk syukur atas nikmat Ramadhan dan meraih keutamaan yang dijanjikan. Setiap ibadah yang kita lakukan, meskipun kecil, akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan berikutnya, dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa. Aamiin.

G. Daftar Pustaka

Sumber Primer (Al-Qur’an dan Hadits)

  1. Al-Qur’an al-Karim, khususnya Surat Al-Baqarah: 185, Al-Isra’: 79, Al-‘Ashr: 1-3.
  2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Thuq al-Najat, 1422 H.
  3. Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya al-Turats, 1374 H.
  4. Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris. Al-Umm. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1393 H.
  5. Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
  6. At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1998.

Sumber Kitab Fikih dan Hadits

  1. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab. Beirut: Dar al-Fikr, t.th., Juz 5.
  2. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Adzkar. Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1987.
  3. As-Shawi, Ahmad. Bulghatus Salik li Aqrab al-Masalik. Kairo: Dar al-Ma’arif, t.th.
  4. Ba’asyin, Sa’id bin Muhammad. Busyral Karim bi Syarh Masa’il at-Ta’lim. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
  5. Al-Bajuri, Ibrahim. Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
  6. Ibnu Qudamah, Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Kairo: Dar al-Hadits, 2004.

Sumber Lainnya

  1. Al-Mubarakfuri, Muhammad Abdurrahman. Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H.
  3. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Riyadh ash-Shalihin. Beirut: Dar Ibn Katsir, 2007.

Tentang Penulis

Gus Moen adalah pemerhati kajian fikih kontemporer dan aktif dalam kegiatan pembinaan umat. Tulisan ini disusun untuk memberikan panduan praktis bagi masyarakat dalam menghidupkan malam Idul Fitri sesuai tuntunan syariat.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan